AI Skill Report Card

Reviewing Enterprise Security Architecture

B72·Aug 18, 2026·Source: Web

Mengevaluasi desain sistem, kode, dan keputusan teknis-bisnis menggunakan lensa analisis konkret (bukan persona kosong), dengan output yang proporsional terhadap kompleksitas pertanyaan.

12 / 15

Untuk setiap permintaan, klasifikasikan dulu:

  1. Pertanyaan sederhana/faktual ("apa itu JWT?") → jawab singkat, langsung, tanpa analisis multi-lensa.
  2. Keputusan arsitektur/desain sistem → gunakan checklist lensa analisis di bawah, terapkan hanya yang relevan (2-4 lensa, bukan semua 6).
  3. Evaluasi kelayakan bisnis/fitur → gunakan kerangka Strategic Assessment.

Sesuaikan bahasa dengan konteks input user — jangan paksakan formalitas berlebih pada pertanyaan casual.

Recommendation
The skill body is written entirely in Indonesian while the frontmatter description is in English — inconsistent language usage could confuse invocation matching and reduce accessibility; consider aligning language throughout or clarifying that Indonesian output is intentional.

Security & Threat Modeling — Terapkan STRIDE (Spoofing, Tampering, Repudiation, Information Disclosure, Denial of Service, Elevation of Privilege) untuk komponen yang menerima input eksternal. Format: vektor serangan → dampak → mitigasi konkret.

Zero-Trust Validation — Checklist:

  • Tidak ada trust implisit berdasarkan lokasi jaringan
  • Setiap request diverifikasi (identity + device posture)
  • Least-privilege access per komponen
  • Segmentasi/microperimeter jelas

Infrastructure & Resilience

  • Immutability: komponen diganti, bukan di-patch in-place?
  • Read-only filesystem di runtime — state disimpan di luar filesystem lokal?
  • Air-gap: apakah komponen kritikal butuh koneksi eksternal terus-menerus?

Error Handling & Data Integrity — Setiap saran kode/logika HARUS mencakup:

  • Error terstruktur ({code, message, context}), bukan exception mentah
  • Idempotency untuk operasi yang bisa di-retry
  • Transaction boundary jelas (commit/rollback eksplisit)

Scalability & Performance

  • Identifikasi bottleneck: I/O-bound, CPU-bound, atau network-bound?
  • Horizontal vs vertical scaling — mana yang cocok?
  • Ada single point of failure?

Strategic Assessment (untuk keputusan bisnis/produk):

  • Nilai strategis: masalah apa yang diselesaikan, untuk siapa?
  • Risiko teknis: kompleksitas implementasi, dependency baru
  • ROI kasar: effort vs dampak (skala 1-5)
  • Rekomendasi: Go / No-Go / Perlu riset lanjutan, dengan alasan konkret
13 / 15

Progress checklist untuk permintaan arsitektur/kode kompleks:

  • Klasifikasikan permintaan: faktual sederhana / desain sistem / keputusan bisnis
  • Pilih 2-4 lensa analisis paling relevan (jangan paksa semua 6)
  • Untuk setiap komponen teknis, terapkan alur: Input → Validation → Processing → Output
  • Sertakan error handling nyata (bukan // TODO: handle error)
  • Tandai asumsi default (Zero-Trust, immutable infra) HANYA jika relevan
  • Tutup dengan rekomendasi actionable, bukan daftar pertanyaan terbuka
Recommendation
Description is solid (third person, includes triggers and negative case), but could be tightened to avoid redundancy between 'authentication/authorization design' and 'system architecture decisions' which overlap conceptually.
16 / 20

Contoh 1 — Desain Autentikasi (kompleks, multi-lensa):

Input: "Bagaimana desain autentikasi yang aman untuk sistem internal dengan akses terbatas?"

Output:

ANALISIS: Autentikasi Sistem Internal

1. Threat Model (STRIDE)
   - Spoofing: credential stuffing → mitigasi: rate limiting per IP+akun,
     MFA wajib untuk role admin.
   - Elevation of Privilege: token di-decode ulang untuk role lain
     → mitigasi: signature verification server-side, jangan percaya
     claim role dari client.

2. Desain Konkret
   - Short-lived access token (JWT, exp 15 menit) + refresh token
     rotasi (disimpan hashed di DB, single-use).
   - Struktur error saat login gagal:
     { "code": "AUTH_INVALID_CREDENTIALS", "retry_after": 30 }
     (jangan bedakan "user tidak ada" vs "password salah")
   - Rollback otomatis jika refresh token dipakai dua kali (indikasi
     token theft) → invalidate seluruh sesi user tersebut.

3. Zero-Trust Check
   - [x] Setiap request API tervalidasi ulang tokennya
   - [x] Least privilege: token membawa scope, bukan role penuh

Rekomendasi: implementasikan token rotation + audit log terpisah
untuk setiap kegagalan auth.

Contoh 2 — Pertanyaan sederhana (tanpa analisis penuh):

Input: "Apa bedanya access token dan refresh token?"

Output:

Access token: kredensial berumur pendek untuk mengakses resource
(5-15 menit), dikirim di setiap request.

Refresh token: kredensial berumur lebih panjang, digunakan untuk
menukar access token baru tanpa login ulang. Disimpan lebih ketat
karena dampak kebocorannya lebih besar.

Contoh 3 — Evaluasi Kelayakan Fitur:

Input: "Apakah fitur sinkronisasi offline-first layak dikembangkan?"

Output:

STRATEGIC ASSESSMENT: Offline-First Sync

Nilai strategis: Signifikan jika target user punya konektivitas
tidak stabil. Rendah jika mayoritas user selalu online.

Risiko teknis: Tinggi — butuh conflict resolution (CRDT/vector
clock), storage lokal terenkripsi, strategi sync idempotent.

ROI kasar: Effort 4/5, Dampak 3/5.

Rekomendasi: Perlu riset lanjutan — validasi persentase user
yang terdampak masalah konektivitas. Jika >20%, Go.
Recommendation
Add at least one example showing a 'bad outcome' (e.g., an over-engineered response to a simple question, or a flawed analysis) to satisfy the 'both good and bad outcomes' criterion more explicitly.
  • Sesuaikan kedalaman jawaban dengan kompleksitas pertanyaan.
  • Selalu sertakan logika eksekusi nyata untuk kode (validasi input, error terstruktur, transaction boundary).
  • Kaitkan rekomendasi teknis dengan dampak bisnis saat relevan, tanpa memaksakan narasi strategis pada pertanyaan teknis murni.
  • Nyatakan asumsi arsitektural secara eksplisit hanya ketika relevan dengan konteks yang dibahas.
  • Jangan memberi kode skeleton, placeholder, atau // TODO kosong.
  • Jangan memaksakan seluruh 6 lensa analisis untuk setiap pertanyaan.
  • Jangan menyamakan kedalaman jawaban pertanyaan trivial dengan keputusan arsitektur besar.
  • Jangan menambahkan branding, tanda tangan, atau elemen non-substantif di luar konten analisis.
  • Jangan membedakan pesan error yang membocorkan informasi sensitif (contoh: user enumeration pada login).
0
Grade BAI Skill Framework
Scorecard
Criteria Breakdown
Quick Start
12/15
Workflow
13/15
Examples
16/20
Completeness
16/20
Format
13/15
Conciseness
12/15